AYAH JUGA LUPA
https://www.facebook.com/notes/chairul-amal-septono/sekedar-berbagi-kisah-yang-disalin-dari-buku-klasik-dale-carnegie/129034522012/
Sekedar berbagi kisah yang disalin dari buku klasik Dale Carnegie
Aku membaca ulang tulisan ini untuk yang kesekian
kalinya setelah beberapa tahun berlalu.
Kali ini aku ingin berbagi. #tulisannyaChairul
AYAH JUGA LUPA
W. Livingstone Larned
Dengar Nak, Ayah mengatakan ini pada saat engkau terbaring tidur, sebuah tangan
kecil merayap di bawah pipimu dan rambut yang keriting pirang lengket pada
dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru
beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang
perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan
bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.
Ada hal-hal yang Ayah pikirkan Nak, Ayah selama ini bersikap kasar kepadamu.
Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena
kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan
sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke
lantai.
Saat makan pagi, Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau
menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikumu di atas meja. Kau
mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau mulai bermain dan
Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil
berseru, "Selamat jalan Ayah!" dan Ayah mengerutkan dahi, lalu
menjawab, "Tegakkan bahumu!"
Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari jalan,
Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang
sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus kakimu. Ayah menghinamu di
depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. Kaus kaki mahal
-dan kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati! Bayangkan itu Nak,
itu keluar dari pikiran seorang ayah!
Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang perpustakaan,
bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa terluka dalam matamu?
Ketika Ayah terus memandang korang, tidak sabar karena gangguanmu, kau jadi
ragu-ragu di depan pintu. "Kau mau apa?" semprot Ayah.
Kau tidak berkata sepatahpun, melainkan berlari melintas dan melompat ke arah
Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher Ayah dan mencium Ayah,
tangan-tanganmu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan yang
telah Tuhan tetapkan untuk mekar di hatimu dan yang bahkan pengabaian sekali
pun tidak akan mampu melemahkannya. Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki
tangga.
Nah, Nak, sesaat setelah itu koran ayah jatuh dari tangan Ayah, dan suatu rasa
takut yang menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan?
Kebiasaan menemukan kesalahan, dalam mencerca -ini adalah hadiah Ayah untukmu
sebagai seorang anak lelaki. Bukan berarti Ayah tidak mencintaimu, Ayah lakukan
ini karena Ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu
dengan kayu pengukur dari tahun-tahun Ayah sendiri.
Dan sebenarnya, begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu.
Hati mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit luas.
Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan
mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam
ini, Nak. Ayah sudah datangke tepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan Ayah
sudah berlutut di sana, dengan rasa malu!
Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah. Ayah tahu kau tidak akan mengerti
hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan padamu saat kau terjaga. Tapi esok
hari Ayah akan menjadi Ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan
ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. Ayah akan
menggigit lidah Ayahkalau kata-kata tidak sabar keluar dari mulut Ayah. Ayah
akan terus mengucapkannya kata ini seolah-olah sebuah ritual: "Dia cuma
seorang anak kecil -anak lelaki kecil!"
Ayah khawatir telah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat Ayah
memandangmu sekarang Nak, meringkuk berbaring dan letih dalam tempat tidurmu,
Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendongan
ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak,
sungguh terlalu banyak... #tulisannyaChairul


Komentar
Posting Komentar